Tersuratlah bahwa Tari Tani khas Kerambitan Tabanan untuk pertama kali ditarikan oleh Sagung Rai Mas, tari ini begitu populernya hingga tahun 1961 – 1965, yang merupakan sebuah tari wajib bagi lstana Negara Republik Indonesia, baik di Jakarta, Bogor dan tempat-tempat VIP lainnya. Saat itulah menggema citra Sekaha Gong Taruna Jaya Kerambitan Tabanan yang dipimpim oleh lda A.A. Ngr. Anom Mayun di Tingkat Nasional. Sekitar tahun 1961, A.A. Gede Oka dari Puri Agung Gianyar mengetahui bahwa Sekaha Gong Taruna Jaya memiliki Tari Tani. Maka dimintalah kesediaannya untuk pentas perdananya di lstana Tampak Siring dihadapan Bapak Presiden Republik Indonesia Soekarno dan tamu-tamu penting negara lainnya. Mulai saat itu Bapak Presiden sangat terkesan dengan Tari Tani garapan tokoh Kerambitan ini untuk pentas di lstana Negara untuk menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1961, yang saat itu didampingi oleh Sekaha Gong Sad Merta Belaluan Denpasar. Dengan populernya Tari Tani saat itu, sampai-sampai Pangeran Norodon Shihanuk (Raja Kambhoja) menghadiahkan sebuah cindramata sebuah Labu Perak yang diukir Lambang Negara Kambhoja kepada penarinya (Sagung Rai Mas).

Sekilas  Carita

Tabanan merupakan tanah agraris yang terkenal dengan sebutan Lumbung Padi dengan sistim perairanya yang terkenal di Bali dengan sebutan “SUBAK”.yang dikoordinir oleh seorang Pekaseh. Masyarakat Tabanan adalah masyarakat petani baik petani sawah maupun  petani Subak Abian.Tari Tani sebuah tari yang menggambarkan tentang proses bercocok tanam padi mulai dengan penanaman sampai dengan pasca panen. Dikisahkan seorang petani sawah menggarap sawahnya untuk ditanami padi, mulai dari mengcangkul, nyekjekan (meratakan) sawahnya sampai dengan menanam benih/bibit yang disebut bulih.

Sampailah pada keadaan tanaman mulai berbuah dimana saat itu banyak sekali hama burungnya, si petani itupun mengusir hama (mepwah) dari serangan sekelompok burung. Padi mulai menguning, datanglah sekaha manyi untuk memanen padi dengan ketam dijadikan ikatan kecil disebut apejangan, kemudian disatukan dijadikan ikatan besar disebut bentelan. Padi tersebut dijemur dikeringkan kemudian ditumbuk untuk dijadikan beras. Demikianlah simbolis tari tani sebagai tari kreasi.