Desa Pupuan pada saat itu tidak seramai sekarang, disekelilingnya hanya hutan belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon kayu yang besar dan tinggi-tinggi. Mereka bersepakat untuk menebang pohon kayu tersebut, yang mana tanahnya nanti akan dijadikan sawah dan ladang. Di dalam mereka menebang cabang-cabang pohon kayu itu, dimana pohon kayu tersebut sangat besar dan tinggi-tinggi, sehingga mereka mempergunakan tali atau ranting-ranting pohon untuk naik ke cabang pohon yang akan ditebang. Setelah selesai tanahnya diolah untuk ditanami bermacam-macam tanaman seperti padi, pohon kopi dan buah-buahan yang hasilnya pun cukup menggembirakan.

Lama-kelamaan mereka mendirikan khayangan tiga, salah satu diantaranya yakni Pura Puseh Bale Agung yang didirikan sekitar tahun 1072 M. Setelah selesai diadakan upacara “Ngusaba Tegteg” atau “Ngenteg Linggih” di Pura Puseh Bale Agung. Dalam upacara inilah untuk pertama kalinya dipentaskan Tari Rejang Ayunan, yan g idenya diambil ketika mereka menerobos hutan tempo hari. Tari Rejang Ayunan ditarikan oleh penarai laki-laki yang berumur 14 tahun sampai yang belum  kawin atau “truna”.

Menurut kebiasaan dimana-mana pada umumnya Tari Rejang ditarikan oleh penari wanita, akan tetapi di Desa Pupuan khususnya untuk penari Tari Rejang Ayunan dilakukan oleh penari laki-laki. Karena masyarakat setempat pada jaman dahulu berpandangan dan percaya bahwa hanya laki-lakilah yang pada umumnya mampu dan mempunyai kewajiban untuk menebang kayu maupun menebas hutan belantara dan juga merukan  pewaris yang dilakukan sampai sekarang.Tari Rejang tersebut dipentaskan pada puncak upacara piodalan di Pura Puseh Bale Agung.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat ditarik pengertian bahwa Tari Rejang Ayunan diperkirakan ada pada abad XI tahun 1072 M, yang merupakan warisan para leluhur masyarakat  Desa Pupuan yang perlu dilestarikan.Perlu disampaikan bahwa yang dimaksud dengan istilah Ayunan di sisni, adalah sebagai berikut :
Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan “Kata Ayunan” berarti buaian (perkakas yang bergantung untuk menidurkan anak), permaian (Purwadarminta, 1982 : 68).