Tari Rejang Ayunan Sebagai Sarana Upacara

Ditinjau Dari Segi Asal Mula, Fungsi Dan Perkembangannya

Asal  Mula

Sebelum menguraikan asal mula Tari Rejang Ayunan yang ada di Desa Pupuan, terlebih dahulu akan uraikan secara umum tentang asal mula Tari Rejang di Bali. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari bendesa adat desa Pupuan, Tari Rejang merupakan tarian kuno yang bersifat sakral yang khusus ditarikan pada waktu piodalan di pura-pura. Drs. I Gst. Agung Gd Putra dalam bukunya Cudamini Tari Wali menguraikan demikian :

Menurut Usaha Bali ketikan Bhatara Indra menyerang Mayadanawa Raja Bali Aga, setelah Mayadanawa tewas dalam peperangan, maka para dewa berkumpul semua di Manukraya menghadap Bhatara Indra. Pada waktu para Bhatara mendirikan khayangan empat buah yaitu di Kedisan, Tihingan, Manukraya dan Keduhuran. Setelah selesai para dewa-dewa mengadakan keramaian di Manukraya yaitu Widyadari menari Rejang, Widyadara menari menjadi Baris, para Gandarwa menjadi tukang tabuh, tukang suling, rebab, sloding dan sebagainya. Sejak itulah kalau ada piodalan di pura-pura harus mengadakan ilen-ilen Rejang, Baris  Gede dan Pendet (Putra, 1980 : 9).

Melihat keterangan di atas maka dapat ditarik suatu pengertian, bahwa setiap piodalan di pura-pura pada umumnya ditarikan tari Rejang yang merupakan salah satu sarana upacara yang amat penting dan harus dilaksanakan.
Asal mula berdirinya Tari Rejang Ayunan di Desa Pupuan tidak diketahui secara pasti, karena tidak adanya data-data tertulis maupun peninggalan-peninggalan lainnya yang membicarakan. Namun keterangan yang berhasil dikumpulkan dari informan yang berada di daerah itu bahwa asal mula tari Rejang tersebut sebagai berikut :
Oleh “Pemangku” Pura Puseh Bale Agung diterangkan sesuai dengan apa yang diceritakan oleh orang-orang tua yang telah mendahuluinya, bahwa dahulu sekitar abad XI di desa Pupuan hanya terdiri dari dua puluh lima kepala keluarga.

Sending
User Review
0 (0 votes)