Gaya asli Mario memang seharusnya dikenali secara cermat. Banyak puncak-puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti, kipas, panggul terompong dan kancut dalam tarian ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata, namun menyatu dan saling mendukung dalam gerak tubuh penari. “Oleh sebab itu gaya Mario perlu dilestarikan, sebelum punah dan sulit melacak asal-usulnya,” ujar Ayu Trisna Dewi Prihatini, pengelola sekaligus Pemilik Sanggar Tari Ayu di Tabanan.

Memang Unik Dosen Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, I Made Arnawa, S.S.Kar menambahkan, lomba tari Oleg secara berkesinambungan akan mampu membuktikan sejauhmana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan oleh koreografer penerus.

Kisah terciptanya tari Oleg Tamulilingan memang unik dan berbelit. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr. I Made Bandem yang sempat menghadiri acara pembukaan lomba tersebut menceritakan, pada tahun 1950 seorang impresario Inggris, Jhon Coast bersama istrinya menetap di Kaliungu Denpasar selama dua tahun. Ia berhasrat membawa sebuah misi kesenian besar ke Eropa dan AS dan niatnya itu mendapat restu menghadap Presiden Soekarno. John Coast, mantan staf pada Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menyiapkan misi kesenian di Pulau Bali dan membuat Coast bertemu dengan penari terkenal I Mario dan muridnya I Sampih dari Peliatan Ubud. Coast bersahabat baik dengan pemain kendang dan Ketua Sekaa Gong Peliatan Anak Agung Gde Mandera yang mempertemukannya dengan I Mario.

Pada awalnya I Mario menolak bergabung kembali ke Sekaa Gong Peliatan karena merasa tua dan sakit-sakitan. Saat itu umur Mario diperkirakan lebih dari 50 tahun. Namun, atas desakan dan pendekatan dari I Sampih, penggemar tajen atau sabung ayam itu akhirnya mau kembali ke Peliatan. Pada April 1951, ketika John Coast memiliki kepastian untuk membawa misi kesenian ke Eropa dan AS, ia meminta I Mario bersama Anak Agung Gde Mandera menciptakan tari baru untuk melengkapi repertoar Gong Peliatan yang saat itu hanya memiliki Tari Janger dan Legong Keraton. Coast menawarkan I Mario menciptakan tari baru dengan menggunakan penari Legong Keraton, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, dan penari Kebyar Duduk, I Sampih. Maestro yang lahir di Belaluan Denpasar pada 1899 ini menyanggupinya, namun perlu waktu cukup lama untuk merenung dan belum juga menemukan gagasan untuk menciptakan tari baru. John Coast merangsang I Mario dengan memperlihatkan buku-buku tari balet klasik yang dilengkapi foto-foto tari pementasan balet “Sleeping Beauty”. Imajinasi Mario pun bangkit. Foto-foto itu memberinya inspirasi untuk menciptakan tari Oleg Tamulilingan dan ia langsung mengajar I Sampih tabuh lagu-lagu sederhana agar bisa memulai latihan bersama Ni Gusti  Ayu Raka Rasmin.Sesudah batang-tubuh tari terwujud secara kasar, Sekaa Gong Peliatan mendapat giliran untuk mempelajari lagu kebyar untuk mengiringi tari peran laki-laki itu. “Semula I Mario menyebut ciptaannya itu dengan nama Tumulilingan Mangisep Sari,” tutur Made  Bandem. (ant)* aaa kusuma arini,dosen ISI Denpasar http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/4/7/g2.html

Estetika  Bergeser dalam Tari Oleg TamulilinganFestival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong baru saja digelar di Tabanan. Festival ini berlangsung semarak. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 , tari Oleg Tamulilinan ini juga dilombakan. Terakhir pada Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar, tari ciptaan I Ketut Marya atau I Mario pada 1950-an ini juga menjadi salah satu materi lomba. Ada apa sesungguhnya dengan tari Oleg Tamulilingan? Benarkah dalam perjalanannya tari ini sudah mengalami pergeseran estetika?

TARI Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Marya alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan  ke Eropa dan Amerika Serikat.Adalah I Gusti Ayu Raka Rasmi asal Peliatan, Ubud merupakan penari pertama yang menarikan tarian itu. Dia anggota paling belia dalam misi kesenian yang meraih sukses besar tahun 1953, didukung Sekaa Gong Peliatan pimpinan A.A. Gede Mandera. Belakangan, tari yang dikemas dalam gerak yang indah dan romantis ini acap kali  dipentaskan untuk resepsi perkawinan.Seni, sebagai suatu bentuk ekspresi seniman memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan universal. Sesuai dengan salah satu sifat seni yakni kreatif, maka seni sebagai kegiatan manusia selalu melahirkan kreasi-kreasi baru, mengikuti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Demikian pula halnya dengan tari Oleg Tamulilingan, iringan dan geraknya mengalami perkembangan. Pada tarian ini telah terjadi pergeseran estetika, namun tetap mencirikan tarian yang indah dan menarik.

Pergeseran estetika itu bisa berupa pembaruan maupun perbaikan dari apa yang telah ada sebelumnya. Yang paling awal mengalami perkembangan adalah iringan gending papeson dari tokoh muanin Oleg tersebut. Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata, sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada perbendaharaan gerak tarinya.

Bagaimana sesungguhnya perkembangan itu terjadi? I Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali, bertutur soal itu. Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah direvisi di hadapan I Mario — sang pencipta Oleg, ternyata Mario sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka Astuti diajar tari Oleg yang “asli” gaya Mario oleh guru tari asal Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi. Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak lukus — kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah tubuh tidak kelihatan.

Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado. Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961. Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri. Dalam koreografinya, sebelum penari “kumbang jantan” atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol “kumbang betina” menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo. Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.

***Tari Oleg Tamulilingan adalah salah satu karya masterpiece seniman Bali. Betapa tinggi sesungguhnya jasa para seniman dalam berkreasi serta mengembangkan karya-karya seni yang mengharumkan nama Bali. Mereka pantas dicatat dan dihargai serta layak diberikan penghargaan seni oleh masyarakat maupun pemerintah.