Misteri Sema Bojog Tanpa Gundukan Alas kedaton merupkan salah satu obyek wisata yang sangat terkenal di bali. Selian kebradan pura kahyangandalem kedaton di lokasi ini juga ditenmukna banyak kera (bojog) dan kalong. Keberadaan kera di lokasi ini memang lebih jinak bila dibandingkan dengan kera di obyek wsiat lainnya. Tidak salah kemudian pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan monyet yang ada.Namun  yang akan dibahas bukan keberadan monyet tersebut, tetapi sisi unik dari monyet atau  bojog itu sendiri. Warags ekitar belum pernah melihat  ada bangkai monytet atau kera di sekitar areal pura di atas tanah. Hal inilah yang menyimpan sebuah mitseri. Satuhal  yang belum terungkap adalah misteri kuburan monyetatau sema bojog. Kuburan pada umumnya ada bekas galian atau gundukan saat menanam mayat, berbeda 180 derajat di sema bojog. Aneh bin ajaib, di kuburan ini tidak akan kita jumpai bekas galian dan gundukan, melainkan tanpa bekas. Aneh. Salah seorang sumber  pak satria mengatakan, misteri sema bojog memang belum terungkap sejak lama. Dia mengaku pernah  mendengar cerita dari almarhum kakeknya yang mondok di pinggir alas kedaton. Dikatakan, penguburan kera sama sekali  tidak terlihat.

Demikian pula dia pernah mendengar tutur dari kakeknya yang juga pemangku tertua di pura tersebut tidak pernah melihat bangkai kera itu dikubur. Semua misteri itu menjadi tanda tanya. Namun dia juga mendengar bahwa salah seorang warga yang berprofesi sebagai balian pernah mengintip pasukan kera itu mengubur temannya. Prosesinya sama seperti penguburan manusia. Yakni bangkai kera itu digotong, suara kera berisik ibarat tetabuhan beleganjur. Namun sayang saat bangkai kera itu dikubur, raja kera mengendus bau manusia. Bangkai itupun dibiarkan tergeletak di atas rumput setra.

Pasukan kera itu lari meninggalkan tempat. Saat balian itu pulang, kemungkinan kera itu mengubur bangkai. Anehnya, saat balian itu kembali ke sana, tidak melihat ada bekas galian atau cakaran kuku kera untuk mengubur temannya. Gundukan pun tak ada kecuali, tanah itu menjadi cekung tanpa bekas tanda bangkai kera itu telah ditanam. “di kuburan kera ini memang aneh. Mestinya usai dikubur ada bekas gundukan, tapi disini beda, yakni tanah menjadi cekung. Inilah yang dipercaya sebagai bekas bahwa bangkai monyet telah dikubur,” kata pemuda yang bekerja di kantor desa setempat ini. Di tengah misteri tentang keberadaan sema bojog , keberadaan kera atau monyet di alas kedaton memang menjadi daya tarik tersendiri.  Wisatwan baik nusantara maupun mancanegara sangat teratrikdengan keberadaan monyet tersebut. Pasalnya keberadaan monyet tersebut tidak nakal seperti di obyek serupa di tempat lain. Hanya dengan berbekal kacang atau ketela para pengunjung dapat berinteraksi dengan aman  dengan para monyet tersebut. Bahkan mereka bisa berfoto. Kalaupun ada monyet yang marah atau nakal, beberapa orang warega yang dinggap pawing memang sudah berjaga di sekitar lokasi untuk menjinakkannya. Selain itu para pengunjung juga dapat melihat keberadaan kalong raksasa yang memang tinggal di hutan yang memiliki keterkaitan dengan kerajaan mengwi, badung ini. Bahkan untuk menambah daya tarik pengelola  juga menyiapkan beberapa kalong yang bisa diajak untuk berfoto bersama.Di pinggir hutan kedaton akan kita jumpai ratusan warung yang menjual barang-barang kesenian hasil buah tangan putra daerah.

Ada 202 kios yang mengadu nasib yang tergabung dalam kelompok pedagang alas kedaton (kpak). Para pedagang yang tergabung dalam kpak memiliki nomor antre untuk mengantar tamu yang datang. Merekalah yang menjadi pemandu lokal atas kedatangan para wisatawan. Setelah wisatawan itu diantar, para pemandu lokal ini bisanya mengajak tamu itu singgah ke warungnya untuk sekedar membeli cindera mata. Kunjungan wisatawan membludak saat sore hari, dan puncak pengunjung paling ramai saat hari-hari besar keagamaan seperti galungan dan kuningan, idul fitri, natal, waisak dan tahun baru.made putra sedana salah seorang pemilik kios di alas kedaton mengatakan kunjungan ke obyek tersebut sangat ramai. Hanya saja para wisatawan jarang ada yang mau berbelanja. “rejeki itu tidak bisa ditebak, ramai jumlah kunjungan tapi tidak dibarengi dengan minat belanja para pelancong. Mereka seakan kekurangan waktu plesir di daerah ini.

Tapi saat hari besar keagamaan rejeki lumayan lancar walau jumlah laba tak sebanding jualan dengan turis,” ujarnya. Jenis dagangan di tempat ini kata putra sedana seragam yakni baju kaos dan aneka patung. Hanya ada dua toko yang menjual barang dagangan seperti lukisan, sisanya seragam. Selain menjual suvernir, di areal obyek wisata alas kedaton juga kita jumpai para perajin pelukis telur. Yakni melukis di atas kulit telor. Jika tamu ramai mereka juga kerap banting setir sebagai tukang tattoo temporary. Hasil dari tatoo ini lumayan bagus apalagi saat liburan sekolah atau saat libur besar idul fitri seperti sekarang ini. “ya…kita harus lihai membidik peluang dollar. Saat boomingwisatawan nusantara, gemerincing rupiah mengalir dari jasa tattootemporary,” ujarnya  sambil tertawa. Namun ada hal yang juag tidak boleh dilupakan jika berkunjung ke alas kedaton. Bagi mereka para penikmat kuliner, maka tidak salah kemudian untuk mencicipi bubur alas kedaton yang memang sangat lezat (maknyus).

Tidak sulit untuk menemukan para pedagang bubur yang memiliki rasa yang sangt khas ini. Begitu masuk arela alas kedaton sebelum gapura utara di sebelah   utara jalan  akan ditemui sebuah warung yang memang khusus menyediakan makanan khas tersebut. Namun kalau ingin dapat merasakan kelezatan bubur ayam di sana hendaknya datang sebelum tengah hari. Kalau sampai lewat dipastikan buburnya sudah habis karena memang laku keras. (joni)